Emosi
“Loh, Ngapain Regi ada di sini?” batinku seraya mengambil uang kembalian yang diberikan teller loket bioskop.
ku balikkan badan dengan cepat bermaksud menghampiri Regi yang baru akan memasuki pintu bioskop yang terbuka lebar
Regi, cowok yang telah ku pacari selama 2 tahun, mahasiswa Universitas Padjajaran Bandung. Kami dulu satu SMA, dia kelas 3, aku kelas satu.
Setelah lulus, Regi melanjutkan kuliah di Bandung, tapi kami tetap berpacaran hingga sekarang. Walaupun kami hanya bertemu seminggu sekali pada saat weekend dan selebihnya kami hanya ber chit-chat lewat HP, SMS, FB atau YM.
Tidak diduga, aku bertemu dia di sini, di bioskop di hari Rabu. Mungkin Regi mau mengejutkanku.
Namun langkahku terhenti ketika muncul sosok wanita yang memegang erat tangan Regi.
Senyum yang tadinya merekah di wajahku langsung hilang tergantikan dengan membesarnya bola mataku.
“Siapa tuh cewek?! Kurang ajar!” gerutuku dalam hati.
Ruang tunggu bioskop yang luas dan sepi, tiba-tiba terasa sempit. Hatiku seperti tertekan dua buah dinding beton sehingga membuatku sulit bernapas.
kedipan mataku menyadarkan otak yang mulai membeku. Aku langsung membalikkan badan dan berjalan cepat ke balik pilar terujung ruang tunggu.
Aku menyenderkan badanku pada pilar tebal itu dan berharap Regi tidak melihatku tadi.
“Sial! Sial! Aaaaaagh! Dasar brengsek!” kataku pelan sambil memukul-mukul pelan pilar yang ku senderi.
“Katanya masih di Bandung, what a big liar!” gerutuku. ku condongkan badanku ke arah kanan pilar, kuintip Regi dengan gerakan perlahan. Tapi aku tidak berhasil menemukannya.
“Sial! dimana sih tuh orang?!” kataku dalam hati.
Ku condongkan kembali badanku kali ini ke arah kiri,”What!” pekikku sambil secepat kilat menarik kembali tubuhku ke balik pilar.
Ternyata mereka ada selangkah dari pilar tempatku bersembunyi.”Gila! ketahuan ga ya?”
Aku menarik napas panjang, mencoba mengatur detak jantungku yang semakin cepat.
Darah ini seperti mendidih melihat mereka bergandengan mesra di depanku. Regi yang selama ini kukira setia ternyata telah menghianatiku.
“Cowok brengsek!Kenapa dia berani melakukannya di sini? di Jakarta, bukan di Bandung? Atau memang dia sengaja melakukannya agar ketahuan olehku? Jika begitu, berarti dia tidak menyintaiku lagi! Ah, tidak mungkin!”
Rasa penasaranku menjadi-jadi. Pertanyaan demi pertanyaan menghujani pikiranku. Masih ada bagian dariku yang berusaha mengingkari apa yang aku lihat.
“Mungkin cewek itu adalah saudaranya? Tidak mungkin! masa sama saudara semesra itu. Atau adiknya, si Diandra?” tanyaku dalam hati. Kemudian aku mencondongkan badanku lagi dengan lebih hati-hati. Kuperhatikan dengan baik cewek yang berada dipelukkan Regi.
“BUKAN! Bukan adiknya! Dasar cowok gatelan!”
Kusembulkan kepalaku sedikit untuk mengamati gerak-gerik mereka. Regi menarik cewek itu menjauh ke arah etalase bioskop.
“Mendingan gua cepet pergi dari sini, sebelum ketahuan!”
Aku berjalan cepat ke toilet yang berada di samping loket bioskop. Kumasuki toilet yang kosong, kuberdiri di depan kaca washtaffel, kupandangi diriku di depan cermin. Ku basuh wajahku dengan air.
“Bukan! Ini bukan mimpi! Ini benar-benar nightmare di siang bolong!” pekikku.
Aku ingin menangis, tetapi tidak bisa. Rasa sedihku tertutup dengan rasa kesal yang memuncak. Kutarik napas berkali-kali untuk menenangkan diri.
“Apakah ini salahku? Apakah aku kurang cantik? Jangan-jangan ada yang membuat Regi kesal sehingga ia tidak menyintaiku lagi? Tidak, pasti Regi akan langsung menceritakannya padaku. Tapi, mungkin saja dia tidak jujur. Sekarang saja dia berani mengkhianatiku.” Lamunanku terpotong oleh masuknya pengunjung ke dalam toilet.
Akupun berpura-pura mencuci tangan. Mungkin itu adalah cuci tangan terlama sepanjang sejarah kehidupan manusia. Setelah pengunjung itu keluar, aku kembali mengintip Regi dari balik pintu toilet.
Mereka masih disitu, bergandengan tangan. Aku kembali masuk dan berjalan mondar-mandir, berpikir apa yang sebaiknya aku lakukan.
“Mungkin aku labrak saja Regi sekarang, biar tahu rasa! Jangan, nanti semua orang akan melihatku dan pasti akan sangat memalukan! Oooh… atau aku berpura-pura jaim dan menyapa Regi, biar di malu dengan kelakuannya! Ah, tidak! Bagaimana kalau dia tidak malu?!Aaggh! Memusingkan! Mungkin aku timpuk saja dia dengan BB-ku? Enak saja! Sayang banget!”
Aku terus mondar-mandir, tak tahu apa yang sebaiknya ku kerjakan. Tiba-tiba aku dikagetkan dengan terbukanya pintu toilet. Langkahku terhenti dan sepertinya denyut jantungku juga.
Cewek yang bersama Regi kini ada didepanku, bersamaku di dalam toilet yang sempit ini. “Huh! Beraninya dia memasuki wilayahku!” batinku.
Ku perhatikan cewek yang berada di hadapanku. “Tidak lebih cantik dariku!” kataku dalam hati.
Dia mengambil lip gloss dari tas kecilnya dan mengoleskannya ke bibirnya secara perlahan. Aku menghampirinya dan berdiri di sebelahnya di depan cermin washtaffel.
Sesekali aku melirik ke arahnya. Kuperhatikan setiap detil pada dirinya. “Tidak ada yang spesial! Kenapa Regi mau mengorbankanku untuk cewek seperti ini.” heranku.
Dia sepertinya merasa aku memperhatikannya, dia tersenyum ke arahku. Tapi aku tak membalas senyumannya. Ingin rasanya aku mencabut kotak sabun yang ada di hadapanku dan melemparkan ke arah wajahnya yang menurutku sok manis.
Tapi aku berpikir kembali. Mungkin dia tidak tahu kalau Regi sudah punya pacar. Mungkin saja dia hanya seorang korban, seperti halnya aku.
Tidak berapa lama, cewek itu keluar dari toilet. Badanku mulai terasa lemas. Aku tidak tahu apa yang harus dilakukan. Sepertinya semua jawaban yang ada di otakku tidak akan mengobati kekesalanku.
Kini rasa kesal itu berangsur berganti menjadi rasa sedih. Air mata mulai menggenangi kelopak mataku.
Tangisanku tidak tertahankan lagi. Isakanku tidak beraturan, didera derasnya airmata dan degup jantung yang berlomba menghantam dadaku.
“Nas, kuatkan dirimu! percuma menangis! Semua sudah terjadi! Keluar dan hadapi kenyataanmu walaupun itu pahit! Makin cepat kau hadapi, semakin cepat pula kau melupakannya!” ujarku dalam hati.
Aku menarik napas dalam dalam, menyeka airmataku kemudian membasuh wajahku yang sudah tidak karuan.
Kurapikan kembali make-up ku. “Aku harus terlihat tegar dan cantik di depan Regi! Jangan sampai dia tahu kalo aku baru menangis!” pesanku dalam hati.
Suara panggilan bioskop terdengar lantang. Aku melihat kembali tiket yang baru kubeli.
“Itu studioku! Tapi aku tidak ada keinginan lagi untuk menonton. Apalagi yang akan kutonton adalah romantic movie. Lebih baik aku pulang saja.”
Aku pun membuka perlahan pintu toilet.
“SURPRISE!”
Teriakan kencang beberapa orang dihadapanku membuatku terlonjak kaget.
“Happy Birthday to you… happy birthday to you….” mereka menyanyikan lagu ulangtahun di hadapanku.
“Apa-apaan ini? kenapa kok semua sahabatku ada disini? dan Regi, kok, di memegang kue ulang tahun?”
“Heh! jangan bengong aja! tiup dong!” celetuk Giani, sahabatku sejak SMP.
Aku langsung meniup lilin dengan wajah yang masih bingung.
“Happy birthday ya say!” ucap Regi.
“Nasya! lo jangan bingung gitu dong! lo tuh baru dikerjain sama kita!” jelas Giani.
“Hah?” aku masih belum sadar.
“Nasya, kamu jangan jealous dulu. Ini sepupu aku Siska. Dia pura-pura jadi selingkuhan aku.” kata Regi menjelaskan.
Aku mulai sadar, wajah bingungkupun sirna tergantikan dengan rasa lega dan senyum lebar.
“Siaalaann! Kena gua!” teriakku sambil memukuli Regi pelan.
Sahabat-sahabatku cekikikan melihat diriku malu bercampur senang. Regi memelukku erat dengan tangan kirinya.
Airmata menetes di pipi. Kali ini bukan air mata kesedihan namun kebahagiaan. Ternyata kekasih dan sahabat-sahabatku tidak melupakan ulang tahunku.
Ulang tahun yang kukira akan kulalui sendirian di bioskop ternyata menjadi ulang tahun terbaikku.
“Terima kasih ya guys!” ucapku.
“Sayang, tapi lain kali, kalo aku liat kamu sama cewek, aku timpuk kamu pake BB aku!” candaku diiringi dengan gelak tawa kami.
Last Updated (Tuesday, 05 January 2010 19:03)


